8 Jan 2022

Curang Berjuang

Panjang. Akupun ikut berdiri memandangi kerumunan orang membentuk barisan yang rapi sedari pagi. Di tengah kerumunan itu beragam usia sedang menunggu, terlihat pasangan lansia yang tersenyum saling memandang, berdiri lelah bersimpah peluh menanti giliran. 

Aku melangkah mendekati barisan yang ada didepan, anak-anak muda berada disana, bahkan beberapa remaja menggunakan kaos idola sedang asyik tertawa seperti sedang membicarakan topik yang mereka suka. 

Kucoba menghitung berapa banyak yang sedang mengantri, namun hitunganku pun tidak pernah menjadi akurat karena mereka bergerak seperti ombak dalam keadaan terdesak. Melihat dari luar, barisan kerumunan perlahan-lahan sudah tidak membentuk garis lurus, mereka berbaur dan  bercampur. Namun sebagian dari mereka tetap tertawa, bercerita walaupun teriknya matahari sudah menyelekit mencubit kulit. 

Sebuah panggung sederhana kulihat lengkap dengan mic, speaker dan peralatan panggung lainnya, semua penyelenggara sibuk wara wiri membawa barang-barang dan sibuk berkoordinasi. Aku sudah didepan namun aku tidak dalam barisan. Aku hanya takjub memperhatikan penuhnya kerumunan, dari kejauhan pun kulihat seorang anak kecil berada di atas pangkuan bahu sang ayah, sambil mencengkram rambut sang ayah untuk menjaga kestabilan. Mengerikan, aku khawatir anak itu hilang keseimbangan. 

"Tes Tes!!" ujar bapak yang memegang mic.

Bapak dari atas panggung itu mulai mengawali pembukaan dan memberikan sambutan. Semua menyambut riuh gembira. Tepukan tangan pun beberapa kali berbunyi kompak meriah. Riak massa terus bergerak membentuk gelombang. Terdengar teriakan kencang mengatakan

"Yang sudah dapat! bisa segera keluar dari barisan"

Sudah waktunya ucapku lirih, segera ku berlari menuju antrian bergerak maju untuk menjadi bagian instant dari barisan dan mendorong kerumunan dengan bahuku. Gelak tawa dan senyum lebar yang mereka tunjukkan sebelumnya seketika berubah menyeringai penuh juang, akupun akhirnya berhasil memotong jalan masuk dengan berbuat curang.

Akupun berhasill, sudah kudapatkan akhirnya nasi kotak yang dibagikan.

6 Jan 2022

Ujian


Satu persatu alat tulis kukeluarkan dari kolong meja. Tangan kiriku penuh dengan keringat menggengam ibu jari dengan erat didalam keempat jari yang lainnya, perlahan kugerakkan ibu jariku keatas dan kebawah secara beraturan. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.25. 

"5 menit lagi" ucapku dalam hati.

Tangan kanan yang memegang pensil 2B itu kini mulai bergerak mengetukkan ujung pensil diatas meja, tidak berapa lama kemudian terdengar lantang suara dari ujung depan.

"Waktunya dimulai!"

Bunyi kertas dibalik pun serempak terdengar. Terbaca olehku dengan jelas tulisan "MATEMATIKA" di kolom pertama dan suasana kelas pun menjadi hening, semua berkutat diatas kertas ujiannya masing masing.

Ujian ini penentu kehidupanku. Ujian dasar yang harus kulewati untuk bisa membangun mimpi atas gambar-gambar bangunan yang pernah kugambar saat itu. Sayangnya tolak ukur atas gambar yang kukerjakan harus dilengkapi dengan kelulusan mata kuliah standar dengan rumus-rumus dasar yang tercantum dalam pelajaran ini. "Sial!" ujarku dalam hati

"10 menit lagi!" 

Suara itu mengingatkan lagi waktu tersisa yang kumiliki dan seketika tubuh dan pikiranku sudah menunjukkan kecemasan. Kulihat kembali nomor-nomor yang masih ragu kulingkari, bola mataku pun mulai melirik kanan kiri. Tidak ada waktu lagi, perlahan kuberanikan diri melingkari jawaban-jawaban yang tak kuyakini.

Akhirnya sudah selesai, langkah kakiku kuarahkan keluar dari ruangan itu, kutarik nafas panjang dalam balutan maskerku sambil mengadahkan kepalaku keatas langit.

"Bro, gimana tadi bisa ga?"

Seorang kawan seketika datang dan bertanya, sambil menyodorkan pembersih tangan ke arah ku. Aku memandangnya terpaku.

"Sebentar aku ke kamar mandi dulu" jawabku singkat.

Lalu aku berlari dengan langkah menggebu, sudah tidak bisa tertahan lagi aku sudah menahannya sejak pagi. Saat sudah masuk kedalam kamar mandi, kusandarkan punggungku dipintu kamar mandi. Mengatur nafas dan menenangkan diri. 

Kubuka ruas jari dari genggaman tangan kiri yang kukepal sejak pagi. Akhirnya, rumus rumus phytagoras, integral dan beberapa catatan yang kugenggam dengan erat di tangan kiri tadi sudah hilang karena sudah kucelupkan dalam bilasan sabun dan air yang kucampur tadi.

"Aku berhasil kan?"
emerge © , All Rights Reserved. BLOG DESIGN BY Sadaf F K.