Sekelebat otak gue merasa bingung dengan makna privasi yang teradaptasi di beberapa sebagian orang. Apa iyaaaa setelah berumah tangga privasi itu tidak ada ?? semua harus terbuka apa adanya ?? bukankah harusnya tetap ada batasan khusus mana yang harus dijangkau dan mana yang tidak harus dijamah.
Kalau landasan pernikahan diartikan keterbukaan tanpa batas soooooo...kebebasan seseorang sebagai manusia yang individu dimandoseeeee???
Menurut Wiki Indonesia :
"Kerahasiaan Pribadi (Bahasa Inggris: privacy) adalah kemampuan satu atau sekelompok individu untuk mempertahankan kehidupan dan urusan personalnya dari publik, atau untuk mengontrol arus informasi mengenai diri mereka. Privasi kadang dihubungkan dengan anonimitas walaupun anonimitas terutama lebih dihargai oleh orang yang dikenal publik. Privasi dapat dianggap sebagai suatu aspek dari keamanan."
Well sorry...buat yang merasa tersinggung, tapi buat gue ini pola kehidupan yang agak sedikit melebihi batas kewajaran. Sebagian temen gue kasih info kalau habitnya ini biasanya teradaptasi dari mulai status "IN RELATIONSHIP" lalu mengakar hingga gerbang "PERNIKAHAN", simple example :
- PIN ATM yang bisa dibagi semudahnya
- Kotak katik SMS, yang merasa............miliknya ya milik gue juga !
Bahkan kalo lo baru isi pulsa dan pulsa lo habis seketika pertanyaan akan menggema.. kok bisa habis ?? bukannya baru diisi ?? habis buat apa ?? sms siapa ??
- Share password email, ataupun password social media ...... Is it important guys ?
1. Mengotak atik email pasangan hanya untuk tahu masa lalu nya ? *oh man, what for ? every body has a past!! and you life until now because learn from the past* atau mungkin email itu bisa digunakan untuk mengetahui daily sang pasangan and.......sekalinya ada daily yang ia tidak ketahui, kalimat sakti muncul *Kamu kok ngga pernah cerita sama aku??? NGOOOOKKKK!!!!*
2. Menggunakan social media sang pasangan, hanya untuk mengganti statusnya, mengganti foto profile, kotak katik message, bahkan ada yang ampe mengganggu kehidupan mantan sang pasangan, yang jelas jelas kaga pernah gangguin pasangan lo (hahaha...this is personal cased)...so pathetic mencoba showing something yang mungkin ngga penting
Well buat gue hubungan yang seperti ini jadi rancu antara No Privacy, No Trust atau KEPO !!!!
Hal hal kaya gini sebenarnya malah memicu perdebatan kelak. Perkawinan itu memang terbentuk berdasarkan deal kedua belah pihak
But be grow up....karena ngga semua hal bisa berjalan seiringan.. jika cukup dewasa, harusnya bisa memilah mana yang harusnya bisa disepakati untuk menjadi privacy dan mana yang akan dinyatakan sebagai kesepakatan bersama
Just read this good article..maybe can give you information in other's side,
I bold some important statement ... enjoy :) :)
Privasi itu bukan menutup-nutupi. Privasi adalah sisi pribadi yang dijaga bagi diri sendiri. Sejauh mana privasi ini dijaga dalam rumah tangga?
Perkawinan adalah kontrak sosial yang harus dihadapi dengan kesepakatan bersama. Namun bukan berarti atas nama kontrak sosial itu, kita tak boleh menjadi diri sendiri. Bagian untuk tetap menjadi diri sendiri inilah yang disebut privasi. Privasi bukan berarti menutupi-nutupi sesuatu atau menyimpan misteri dalam perkawinan. Privasi adalah sisi pribadi yang dijaga bagi diri sendiri.
Ketika menikah, ego manusia tetap menuntut adanya batasan bagi orang lain untuk memasuki wilayah pribadinya. Meski terikat oleh ikatan perkawinan, baik istri maupun suami sebenarnya adalah pribadi yang independen. Contoh, mereka berhak mengembangkan dirinya lewat minat-minat pribadi yang ingin terus dilakoninya.
Membiarkan adanya privasi di antara pasangan suami istri malah akan membantu perkembangan individu di kedua belah pihak. Individu yang merasa nyaman dengan dirinya sendiri akan mampu mengendalikan kehidupannya sebagai seorang pribadi yang bebas. Situasi ini kemudian bisa membawa angin segar dalam kehidupan rumah tangga. Privasi juga membuat individu sehat secara mental sehingga ia akan mampu berkomunikasi dan menjalin hubungan sosial dalam lingkungan sosialnya.
Selain itu, memberikan ruang privasi pada kehidupan perkawinan justru mencerminkan sikap saling percaya satu sama lain. Untuk diketahui, sikap percaya adalah kunci dari perkawinan yang sehat.
KETAHUI WILAYAH PRIBADI
Privasi membutuhkan penyesuaian sekaligus pengertian dari kedua belah pihak. Karena itu, setiap pasangan mesti menentukan apa yang dimaksud dengan wilayah pribadi masing-masing itu. Idealnya, dalam masa penjajakan sebelum perkawinan, masing-masing pihak sudah bisa mendapat gambaran privasi dalam bentuk apa yang diinginkan oleh calon pasangannya untuk menghindari timbulnya kecurigaan kelak dalam perkawinan.
Misal, apa yang dimaksud dalam soal pribadi; soal pendapatan, waktu untuk menekuni hobi, cerita tentang masa lalu atau mantan pacar, hubungan komunikasi dengan pihak lain lewat telepon genggam atau e-mail dan lain-lain. Privasi ini seyogianya menjadi kesepakatan di dalam perkawinan sehingga tak perlu terjadi adanya pelanggaran dalam privasi yang memberi dampak buruk pada perkawinan.
BLAKBLAKAN & JATI DIRI
Terbuka pada pasangan memang diperlukan dalam kehidupan perkawinan. Namun, jika terlalu blakblakan, nyaris tak pernah punya ruang pribadi masing-masing, tampaknya juga tak sehat. Pasalnya, kehilangan ruang pribadi malah membuat konsep diri jadi menurun. Lo, kok, bisa? Coba Anda bayangkan, ketika Anda membutuhkan waktu untuk diri sendiri (me time), misalnya untuk menekuni hobinamun pasangan minta ditemani ke suatu tempat. Anda segan menolak karena tak ingin melukai hati pasangan. Mungkin awal-awalnya Anda bisa menerima. Namun, lama kelamaan, sikap selalu mengalah ini justru membuat Anda frustrasi. Akibatnya, Anda sendiri tidak berkembang karena kehilangan momen-momen untuk “meng-up grade” diri, Anda pun diam-diam menumpuk dendam pada pasangan karena menganggap dirinya sebagai penghambat kebebasan Anda. Pada akhirnya hal ini menjadi penghambat hubungan Anda dengan pasangan.
Untungnya, sebagian besar pasangan tetap menginginkan privasi. Privasi diperlukan untuk mengembangkan dan membuat nyaman dirinya sendiri. Privasi juga mencerminkan adanya sikap saling percaya.
MILIK BERSAMA ATAU PRIVASI?
Mungkin Anda pernah bertengkar lantaran memergoki pasangan tengah asyik membaca SMS di ponsel Anda. Atau Anda kesal karena merasa ditolak ketika pasangan berkata ingin menyendiri. Agar hal-hal ini tidak terjadi, setiap pasangan hendaknya menghormati wilayah pribadi masing-masing.
1. Handphone
Telepon genggam adalah milik pribadi karena nomor yang terdaftar pada operator adalah milik pribadi juga. Bila Anda penasaran ingin melihat SMS yang masuk atau mengangkat HP nya yang berdering, mintalah izin terlebih dulu.
“Saya mengganggap HP adalah barang pribadi. Makanya saya tidak suka kalau dilihat SMS-nya atau diangkat orang lain. Saya pun tidak pernah melihat isi HP suami. Pernah ada telepon di malam hari berdering di HP suami saya. Saya tanya siapa yang telepon, setelah dijelaskan, saya mengerti. Toh kalau bohong, ketahuan kok dari sikap atau matanya.” (Ervina, 32)
2. E-mail
Tiap orang sebaiknya tetap punya e-mail pribadi, misalnya untuk menjalin komunikasi dengan pihak lain yang berhubungan dengan karier atau pengembangan pribadi. Dengan e-mail pribadi pun, Anda dapat bergabung dengan milis yang sesuai minat Anda.
“Aku punya dua email pribadi di rumah. Meskipun yahoo-nya sama, yang satu aku buat atas nama berdua. Gunanya untuk komunikasi dengan keluarga besar karena kami tergabung di milis keluarga atau saling berkirim kabar dengan teman-teman kami berdua. Alamat e-mail lain milik aku pribadi. Jadi aku tidak perlu memberitahukan password-nya karena memang untuk e-mail-e-mail urusan pribadiku. Istriku juga punya e-mail pribadi kok. Kami sudah saling tahu itu.” (Saiful, 31)
3. Dompet
Hampir semua orang menganggap, dompet adalah wilayah pribadi. Oleh sebab itu, mereka tak rela bila orang lain, termasuk pasangannya, membuka dompet mereka.
“Meski isi uangnya tidak banyak, dompet itu hak pribadi seseorang. Istri saya tahu itu, jadi enggak berani mengorek-ngorek. Saya pun enggak pernah membuka dompet milik istri. Tapi saya juga tidak masalah kalau istri membutuhkan sesuatu dari dompet saya. Asalkan atas seizin saya.” (Andika, 27)
4. Tabungan
Setiap orang berhak menikmati hasil jerih payahnya sendiri dalam bekerja. Namun, masalah uang sering kali menjadi hal yang sensitif di dalam keluarga. Komunikasikan pada pasangan bahwa Anda ingin mempunyai tabungan pribadi yang diambil dari sebagian penghasilan karena mempunyai satu tujuan, seperti ingin memperdalam hobi lewat pendidikan formal, berlibur ke tempat tujuan yang diidamkan sejak dulu, namun tempatnya tak cocok untuk membawa keluarga, dan lain sebagainya. Tentang jumlah tabungan, sepakati apakah perlu menjadi wilayah privasi atau harus selalu dikomunikasikan pada pasangan.
“Saya wanita bekerja dan berencana mengambil pensiun muda di usia 50 dan menekuni usaha katering. Sekarang, saya punya tabungan pribadi untuk kursus memasak dan membeli peralatan dapur yang akan membantu bisnis saya nanti. Suami saya tahu, kok. Malah dia suka nambahin. Dia juga punya tabungan pribadi untuk membeli tanah di kampung. Tentang jumlahnya, kami sama-sama tak pernah tanya, tuh.” (Wiwiek, 38)
5. Urusan kantor
Beberapa pasangan menganggap, urusan kantor menjadi wilayah pribadi yang tak perlu diceritakan pada pasangan. Namun, ada pula yang selalu menceritakannya, terutama di masa-masa sulit agar dapat berbagi dengan pasangan. Sepakati bersama apa saja hal-hal di kantor yang dapat dibagi kepada pasangan.
“Sejak menikah, urusan kantor memang sudah menjadi komitmen kami berdua bahwa tak perlu dibawa ke rumah. Kebetulan istri saya juga bekerja. Tapi, tanpa disadari, kadang-kadang obrolan kami di rumah juga nyerempet-nyerempet urusan kantor. Ya enggak apa-apa sih, sepanjang bukan dipaksa cerita.” (Bowo, 32)
6. Hobi
Punya waktu diri sendiri untuk menekuni minat atau hobi menyehatkan mental dan meningkatkan kemampuan diri. Pada akhirnya juga menyegarkan kehidupan perkawinan. Oleh sebab itu, luangkan waktu melakukannya.
“Suami suka asyik sampai berjam-jam dengan tanamannya di hari Minggu. Saya tidak mau mengganggunya karena saya juga ingin melakukan hal-hal yang sifatnya pribadi, seperti ke salon untuk merawat diri. Meski begitu, kami tetap senang menikmati saat bersama dengan anak-anak.” (Neta, 33)
Narasumber:So now....what do you think.....how important privacy for your marriage life?,
Ronny Hanggoro Psi. Msi.,
Psikolog pada Lembaga Psikologi Terapan (LPT UI) Universitas Indonesia
Walaupun salah satu teman gue, tetep kekeuh dengan statement nya yang menyatakan pasangan kita itu bukan musuh sah sah saja terbuka apa adanya, ngga perlu ada yang ditutupin.....
Hohoho, I just smiling a while. Yes of course, they're not your enemies, they still be your partner.
But watch out guys wheels are always spinning, who knows about the heart next.???
Sometimes people that you trust a lot can change be someone you un trust so much.
coz for me .... PRIVACY .. is one part of my life :)
salam kenal :)
BalasHapussaya sangat setuju dalam hal privacy tsb. merdeka !!
MERDEKA!!!!!
Hapusikkk kalo pernikahan tanpa sekat gimana bikin anaknya *salahpokus* :P bhihihik..
BalasHapusAih antedok.....
Hapus